Perusahaan perlu memiliki standard penggajian yang jelas yang biasa dituangkan dalam Matrix Salary atau kalau memakai istilah Depnaker “Struktur & Skala Upah”. Tujuan dari matrix salary adalah:

  1. Agar karyawan memiliki career path dalam penghasilan sehingga lebih termotivasi bekerja dalam jangka panjang.
  2. Meningkatkan prinsip keadilan antar posisi jabatan yang berbeda. Sebagai contoh gaji Sekretaris Direksi tentunya akan berbeda dengan gaji Office Boy.
  3. Mempermudah budgeting & forecasting keuangan perusahaan di masa mendatang.
  4. Agar compliance dengan regulasi pemerintah terkait ketenagakerjaan.

Perlu diketahui istilah “upah” menurut regulasi terdiri dari komponen gaji ditambah tunjangan tetap. Nilai nominal gaji paling sedikit 75% dari upah. Sebagai contoh jika upah karyawan 10 juta maka maksimal gaji adalah 10 juta dan minimal 7,5 juta rupiah.

Dalam penentuan matrix salary perlu diperhatikan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan no 1 tahun 17 pasal 2 ayat 1: “ Struktur & Skala Upah wajib disusun oleh Pengusaha dengan memperhatikan golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan & kompetensi.”

Adapun pengertian dari:

  • Struktur Upah, adalah susunan tingkat pengupahan dari yang terkecil hingga terbesar.
  • Skala Upah, yaitu kisaran nilai nominal dari yang terkecil hingga terbesar untuk setiap golongan jabatan.

Idealnya tahapan yang perlu dilakukan dalam penentuan matrix salary adalah:

  1. Job Analysis, untuk menentukan nature dari pekerjaan secara spesifik: Job Description & Job Specification
  2. Job Evaluation, yaitu perbandingan dari Jobs/ Golongan-golongan Jabatan yang ada dalam organisasi. Tujuannya untuk mengukur secara relatif tingkat kepentingan/ bobot masing-masing Job ke Organisasi. (Di artikel mendatang akan saya tuliskan metode dari Job valuation)
  3. Penentuan Job Structure/ Struktur Kerja, yaitu setiap job diurutkan sesuai hasil Job Valuation.
  4. Yang terakhir baru penentuan nominal Skala Upah yang tentunya sudah di-benchmark dengan pasar tenaga kerja.

 

Metode perhitungan skala upah ada beberapa teknik, antara lain:

  • Metode 2 titik, dimana Golongan Jabatan dipetakan ke sumbu X  &  sedangkan Nominal Upah berada di sumbu Y. Hubungan Y dengan X akan membentuk garis liner dengan formula: Y= a + bX
  • Metode Poin Faktor, dimana angka poin diperoleh dari Job Evaluation. Poin dari Job terendah hingga tertinggi kemudian dibuat interval berdasar jumlah Jobs yang ada.

Hasil perhitungan dari matrix salary akan dituliskan dalam tabel seperti di bawah. Minimal upah terkecil di sini harus sama dengan UMP (Upah Minimum Propinsi)

Jabatan Golongan Jabatan Upah Terkecil Upah Terbesar
Jabatan terendah
Jabatan tertinggi

Detail & contoh perhitungan akan disampaikan di artikel mendatang.

Demikianlah gambaran proses pembuatan Matrix Salary di Perusahaan. (-sgt-)

 

Share This