Mengambil franchise merupakan salah satu pilihan jika ingin memulai usaha jika belum memiliki produk sendiri. Meskipun sudah memiliki produk sekalipun tetap saja franchise lebih unggul dalam hal kecepatan untuk memulai usaha karena didalamnya sudah ada system & modul yang tinggal dijalankan. Agar tidak salah kita perlu mendapat informasi yang cukup dan menguji informasinya. Berikut tips mengambil keputusan franchise yang tepat khususnya terkait pengujian data di awal.

Karena sering melakukan transaksi pembelian lewat online maka di bulan Jul 2017 tiba-tiba terpikir untuk ambil franchise agen ekspedisi. Segera saya Googling & hubungin kantor ekspedisi ternama untuk mengetahui syaratnya. Setelah melalui serangkaian proses connecting akhirnya ketemu juga dengan PIC-nya.

Hal pertama yang saya tanyakan ke PIC adalah berapa besar kisaran revenue perbulan untuk setiap agen dan dijawab 100 juta hingga 1 milyar. Hmm… dengan sharing revenue sekitar 20% tentunya sangat menggiurkan.

Di kesempatan lain saya mencoba mencari pembanding dari kompetiternya. Setelah ketemu PIC dari kompetiternya kembali saya tanyakan potensi revenue per bulannya dan dijawab 40 juta hingga 160 juta dengan sharing revenue 30%. hmm ini masih bolehlah apalagi bisnisnya boleh satu tempat dengan bisnis yang lain jadi lebih hemat.

Kalau dilihat sepintas informasi dari kedua PIC yang melayani keagenan secara franchise maka cukup menarik keuntungannya. Namun demikian jangan terburu-buru dulu mengambil keputusan sebelum mengujinya.

Berikut simulasinya dengan asumsi 1 order = 1kg, biaya ekspedisi A= 9 ribu rupiah/kg dan biaya B= 5 ribu per kg, waktu yang dibutuhkan untuk proses (timbang, input data, cetak & labeling)= 5 menit, 1 hari ada 8 jam kerja, asumsi 5 hari kerja per minggu atau 22 hari per bulan serta ada pembulatan angka desimal.

Agen Ekspedisi Rp Revenue /month # order

/ month

#order/

day

#minute

/order

#minute

/day

#hour

/day

#staff
A (minimal) 100,000,000 11,111 505 5 2,525 42 5
A (maksimal) 1,000,000,000 111,111 5,051 5 25,253 421 53
B (minimal) 40,000,000 8,000 364 5 1,818 30 4
B (maksimal) 160,000,000 32,000 1,455 5 7,273 121 15

 

Dari tabel di atas kita cukup amati jumlah staff per cabang keagenan. Yang pertama kita amati untuk cabang yang sepi maka untuk agen A akan butuh 5 orang dan agen B butuh 4 orang. Demikian pula untuk cabang yang ramai agen A butuh 53 orang & agen B butuh 15 orang. Sekarang kita tinggal uji di lapangan dengan meminta info di cabang mana agen A & B paling ramai serta mana yang sepi.

Karena tidak mendapatkan data transaksi per cabang maka untuk meng-assess informasi cukup mengamati proses didalamnya, menghitung jumlah staff serta ditongkrongin di luar berapa jumlah konsumen yang masuk ke agen tersebut dalam 1 hari. Akan lebih baik jika ada tambahan informasi dari kenalan yang membuka usaha sejenis.

Kenapa perlu diuji? Karena perlu menghindari bias informasi agar feasibility studi lebih valid asumsinya dan hasilnya dapat lebih dipercaya sebagai contoh untuk menghitung breakevent point, IRR dan ROI.

Sehingga mungkinkah agen B terkecil jumlah staffnya sampai 4? Demikian pula agen terbesar A sampai 53 orang staffnya? Demikian pula apakah mungkin dalam sehari ada 500 hingga 5000 transaksi di outlet mereka?

Jadi pengujian informasi ini penting tidak peduli jenis bisnis & nama merk-nya. Kalau asumsi aliran revenue salah maka kita dapat membuat kesalahan yang lain terkait alokasi pengeluaran OPEX & CAPEX. Demikian tips mengambil keputusan franchise yang tepat dalam hal pengujian informasi awal (-SGT-)

 

Share This